Gresik (Kemenag) --- Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk mengawal dan membina sekitar 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia. Menag menyebut dengan terwujudnya Ditjen Pesantren ini, maka Kemenag telah dapat secara khusus menjalankan tugasnya untuk melayani dunia pesantren di tanah air.
Hal tersebut disampaikan Menag saat melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik, Jawa Timur. Didampingi langsung oleh Dirjen Pesantren, Basnang Said, Menag menjelaskan bahwa keberadaan Ditjen ini menjadi instrumen vital negara dalam mengayomi ekosistem pesantren yang sangat besar. Melalui tata kelola dan sistem pendataan modern, Kemenag kini memantau langsung dinamika puluhan ribu pesantren di seluruh Indonesia.
“Kita sekarang memiliki sistem yang secara khusus memantau sekitar 42 ribu pondok pesantren di seluruh Indonesia. Kehadiran Ditjen ini adalah wujud pengabdian tulus agar negara hadir membersamai perjuangan pesantren,” tegas Menag, Sabtu (10/10/2026).
Sinergi Umara dan Ulama
Langkah Kemenag ini disambut apresiasi oleh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin. Mewakili Pengasuh sekaligus Rektor UNKAFA Gresik, Muhammad Majduddin, menyatakan bahwa perhatian intensif pemerintah melalui Kemenag menjadi bukti pengakuan negara terhadap kiprah historis pesantren.

“Sepertinya baru kali ini Menteri Agama berkunjung maraton langsung dari pesantren ke pesantren. Ini merupakan satu wujud nyata perhatian pemerintah terhadap pondok pesantren, yang diakui atau tidak, merupakan lembaga pendidikan tertua dan paling berjasa di negeri ini,” ungkap Majduddin.
Majduddin menegaskan pentingnya mempererat tali persatuan antara pemerintah (umara) dan para kiai (ulama) demi menjaga kedamaian bangsa. Mengutip sebuah kaidah keislaman, ia menekankan bahwa bersatunya ulama dan umara adalah kunci utama pencegah kerusakan bangsa.
“Ittihadul ulama ma’a wulatil amri sababan raisan li raddil fasad—persatuan ulama bersama umara menjadi sebab pokok untuk menolak kerusakan, menangkal kegaduhan, serta menyebarkan ketenteraman (intisyarut thuma’ninah) di tengah masyarakat,” kutip Majduddin.
Majduddin memaparkan bahwa Mambaus Sholihin yang dirintis sejak tahun 1981 kini terus berkontribusi dengan 10 cabang resmi di seluruh Indonesia dan total area mencapai 29 hektare. Sinergi antara pemerintah pusat melalui Ditjen Pesantren dan pengasuh pondok diharapkan semakin memperkokoh peran strategis santri bagi masa depan Indonesia.
Lebih lanjut, Menag secara terbuka menyampaikan kekagumannya terhadap kesinambungan jenjang pendidikan di Mambaus Sholihin yang sangat lengkap dan terstruktur, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi jenjang doktoral (S3).
“Saya sudah lama membaca direktori Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, mulai dari TK sampai perguruan tinggi S3, sejarahnya, dan kurikulumnya. Saya mendorong model tata kelola pendidikan dan pembinaan santri di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin ini agar dapat direplikasi dan menjadi prototipe bagi pesantren di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Majduddin menjelaskan bahwa kekuatan utama kurikulum Mambaus Sholihin terletak pada sintesis unik antara tradisi keilmuan pesantren klasik, metode modern, dan olah spiritualitas. Hal ini tidak lepas dari latar belakang keilmuan sang pengasuh, KH. Masbuhin Faqih.
“Karakter Mambaus Sholihin merupakan perpaduan utuh. Beliau (KH. Masbuhin Faqih) mengenyam pendidikan di Gontor yang menitikberatkan pada penguasaan bahasa Arab dan Inggris secara aktif serta kedisiplinan. Kemudian beliau melanjutkan talaqqi ke Pondok Pesantren Langitan mendalami kitab kuning secara mendalam—mulai dari Alfiyah, Ushul Fiqh, Imrithi, hingga Nahwu dan Sharaf. Sisi spiritualitasnya diperkuat melalui baiat dan bimbingan langsung Romo KH. Utsman Al-Ishaqi,” paparnya.
.jpeg)
