Jakarta (Kemenag) --- Generasi Z (Gen Z) dikenal peduli terhadap isu kelestarian bumi dan itu menjadi modal sosial yang sangat besar bagi masa depan lingkungan hidup Indonesia. Kementerian Agama siap mengoptimalkan potensi ini dengan mendorong jutaan pelajar madrasah dan santri pesantren menjadi motor penggerak sekolah berbudaya lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam peluncuran Gerakan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata bertajuk "Mengawali Langkah Bersama untuk Sekolah Berbudaya Lingkungan" yang berlangsung di TMII, Jakarta. Acara ini dihadiri juga oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Muhammad Jumhur Hidayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat, jajaran pejabat terkait dari tiga kementerian, serta para tenaga pendidik dan siswa dari berbagai satuan pendidikan, termasuk madrasah dan pesantren.
Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat secara khusus memberikan apresiasi terhadap generasi muda Indonesia. Berdasarkan data survei terkini, generasi Z terbukti memiliki kesadaran ekologis yang jauh melampaui generasi-generasi pendahulunya.
Menteri LH mengapresiasi atas tren positif tersebut dterhadap kepekaan ekologis anak-anak muda zaman sekarang. "Ternyata Gen Z itu punya kesadaran lingkungan yang lebih baik daripada generasi seperti kita,” ujar Jumhur, Senin (12/10/2026).

Jumhur menuturkan, fakta bahwa 80 persen Gen Z sadar lingkungan membuat peran pemerintah bergeser dari sekadar mendikte menjadi fasilitator yang menjaga agar semangat kepedulian tersebut terus menyala dan berkembang menjadi karakter hidup sehari-hari.
"Jadi dari survei, itu 80 persen Gen Z itu lebih sadar lingkungan ketimbang kita-kita yang lebih senior. Karena itu pertanyaannya begini: 'Pak Jumhur, apakah ada pesan kepada Gen Z untuk soal lingkungan?' Saya bilang enggak usah, ternyata surveinya lebih sadar mereka daripada kita semua. Jadi kita tinggal memfasilitasi saja, memastikan bahwa kesadaran itu akan terus bertumbuh sampai kapan pun," tegasnya.
Merespons potensi tersebut, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kemenag telah bergerak konkret menyiapkan ekosistem pendidikan yang menyalurkan kepekaan generasi muda tersebut lewat integrasi kurikulum ekoteologi di 80.000 madrasah dan 42.000 pesantren.
Menag mengungkapkan, dari hasil evaluasi implementasi kurikulum bersama 400 pengawas pendidikan madrasah se-Indonesia, telah terbukti lahir kesadaran baru (new consciousness) yang sangat menyentuh di kalangan siswa madrasah terhadap makhluk hidup di sekitar mereka.
Menggambarkan betapa tingginya empati yang mulai terbangun pada sanubari anak-anak didik, Menag membagikan testimoni nyata perubahan perilaku para siswa di lapangan.
"Subhanallah Bapak-Ibu sekalian, menarik sekali karena muncul sebuah new consciousness, ada kesadaran baru dalam anak didik kita sekarang ini. Sampai ada anak tidak berani membunuh semut yang menggigit tangannya. Alasannya apa? 'Kasihan tuh, ada anak-anak kecilnya menantikan kedatangan ibunya, kalau kita bunuh, kasihan anak-anaknya'," tutur Menag menceritakan.
Menag menambahkan, melalui pendekatan Kurikulum Cinta dan nilai persaudaraan sesama ciptaan Tuhan (ukhuwwah makhluqiyyah), para peserta didik dibimbing untuk memahami bahwa merawat flora dan fauna sama artinya dengan merawat eksistensi manusia itu sendiri.
"Muncul sebuah kesadaran: engkau adalah aku, aku adalah engkau. Kita eksplor bukan lagi engkau adalah manusia, tetapi tumbuh-tumbuhan engkau adalah aku, aku adalah engkau. Muncul kesadaran antara lingkungan masyarakat didik baru kita sekarang ini di kelolaan Kementerian Agama," jelas Menag.
Dengan populasi jutaan Gen Z yang menimba ilmu di lingkungan madrasah dan pesantren dari jenjang dasar hingga menengah, Kemenag optimistis energi ini akan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan sekolah hijau yang berkelanjutan di seluruh Indonesia.


