Nasional

Dari Santri untuk Negeri: Kontribusi Nyata Pesantren bagi Indonesia

Kontributor

Kontributor

Penulis

±4 menit baca

Dari Santri untuk Negeri: Kontribusi Nyata Pesantren bagi Indonesia
Dr. Arizqi Ihsan Pratama, M.Pd. (Dosen Universitas Darunnajah)

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, pesantren tetap menjadi salah satu pilar penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dari lingkungan yang sederhana, di bawah bimbingan kiai dan ustaz, lahir generasi yang tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga menempa karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan kepedulian sosial. Karena itu, membicarakan pesantren sesungguhnya bukan hanya membicarakan pendidikan Islam, melainkan juga masa depan Indonesia.

Secara historis, pesantren memiliki hubungan erat dengan perjalanan bangsa. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pesantren menjadi ruang pendidikan, pembentukan kesadaran kolektif, dan penguatan semangat perjuangan. Tradisi keilmuan yang berkembang di dalamnya turut membangun kesadaran bahwa agama dan kecintaan terhadap tanah air bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Pesantren menjadi bagian dari kekuatan masyarakat yang ikut menjaga identitas, martabat, dan keutuhan bangsa.

Pengakuan negara terhadap peran tersebut ditegaskan melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Regulasi ini menetapkan tiga fungsi utama pesantren, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Artinya, kontribusi pesantren tidak berhenti pada pengajaran ilmu agama, tetapi juga mencakup pembangunan karakter, penguatan kehidupan sosial, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Republik Indonesia, 2019).

Membangun Manusia, Bukan Sekadar Meluluskan Santri

Kontribusi pertama pesantren terletak pada pembentukan manusia yang berilmu dan berakhlak. Di pesantren, pendidikan berlangsung melalui perpaduan pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, dan kehidupan bersama. Santri belajar menghormati guru, mengatur waktu, hidup sederhana, bertanggung jawab, serta menyelesaikan persoalan bersama. Nilai-nilai tersebut merupakan modal sosial yang penting bagi pembangunan bangsa.

Pendidikan karakter tidak cukup disampaikan melalui ceramah atau buku pelajaran. Ia membutuhkan lingkungan yang memungkinkan peserta didik mengalami dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut. Dalam konteks ini, tradisi kehidupan pesantren memberikan ruang bagi pembentukan karakter melalui pengalaman sehari-hari. Namun, keberhasilan pendidikan pesantren tetap perlu ditopang oleh pembelajaran yang berkualitas, pendampingan yang baik, serta perlindungan terhadap hak dan martabat santri.

Lebih jauh, santri masa kini perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, literasi digital, komunikasi, kreativitas, dan pemecahan masalah. Penguasaan kitab kuning dan ilmu keislaman perlu berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, santri tidak hanya mampu menjaga warisan keilmuan Islam, tetapi juga berkontribusi dalam menjawab persoalan masyarakat modern.

Dari Ruang Belajar Menuju Pemberdayaan Masyarakat

Kontribusi kedua adalah pemberdayaan ekonomi dan sosial. Pesantren memiliki kedekatan dengan masyarakat sehingga berpotensi menjadi pusat pengembangan keterampilan, kewirausahaan, dan solidaritas sosial. Melalui koperasi, unit usaha, pertanian, pengolahan pangan, pelatihan keterampilan, dan pemasaran produk lokal, pesantren dapat membuka kesempatan ekonomi bagi santri maupun warga sekitar.

Potensi tersebut sejalan dengan Pasal 43–45 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 yang menempatkan pemberdayaan masyarakat sebagai fungsi pesantren, termasuk melalui penguatan kapasitas ekonomi dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (Republik Indonesia, 2019). Dengan pengelolaan profesional, pesantren dapat mengembangkan kemandirian lembaga sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitarnya.

Meski demikian, kemandirian ekonomi tidak boleh menggeser tujuan utama pendidikan. Usaha pesantren semestinya menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan, tanggung jawab, dan kebermanfaatan sosial, bukan menjadikan santri sekadar tenaga kerja. Prinsip kemaslahatan harus tetap menjadi orientasi setiap program pemberdayaan.

Menjawab Tantangan Zaman dengan Tetap Berakar

Pesantren juga menghadapi tantangan berupa kesenjangan akses teknologi, keterbatasan sarana, kebutuhan peningkatan kompetensi pendidik, serta tuntutan tata kelola yang semakin akuntabel. Menjawab tantangan tersebut bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkuatnya melalui inovasi yang tepat.

Digitalisasi pembelajaran, kolaborasi dengan perguruan tinggi, pengembangan riset, peningkatan mutu lulusan, dan kemitraan dengan dunia usaha dapat menjadi langkah strategis. Pemerintah, masyarakat, alumni, dan sektor swasta perlu membangun kerja sama yang adil agar pesantren memperoleh kesempatan berkembang tanpa kehilangan kemandirian dan kekhasannya.

Pada saat yang sama, pesantren perlu terus menumbuhkan sikap moderat, menghargai perbedaan, dan membangun dialog. Di tengah masyarakat yang beragam, santri harus mampu menunjukkan bahwa keberagamaan dapat berjalan bersama penghormatan terhadap kemanusiaan, persatuan, dan kehidupan demokratis.

Santri dan Masa Depan Indonesia

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pesantren bukan semata-mata jumlah santri yang lulus atau luasnya bangunan yang dimiliki, melainkan sejauh mana ilmu dan nilai yang dipelajari memberikan manfaat bagi kehidupan. Santri yang menjadi guru, peneliti, pengusaha, pemimpin masyarakat, aparatur negara, maupun pekerja profesional memiliki kesempatan yang sama untuk mengabdi sesuai bidangnya.

Semangat khairunnas anfa'uhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain—dapat menjadi landasan etis pengabdian tersebut. Santri tidak cukup hanya bangga menjadi bagian dari pesantren; mereka perlu membuktikan bahwa pendidikan yang diterima mampu melahirkan tindakan nyata bagi masyarakat.

Dari pesantren, Indonesia membutuhkan generasi yang kuat dalam iman, matang dalam akhlak, luas dalam pengetahuan, dan nyata dalam pengabdian. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mengarahkannya. Dari santri untuk negeri, pesantren memiliki peluang besar untuk terus merawat nilai, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menghadirkan kemaslahatan bagi Indonesia.

Dr. Arizqi Ihsan Pratama, M.Pd. (Dosen Universitas Darunnajah)

Moh Khoeron

Moh Khoeron

Editor

I

Istimewa

Fotografer

Kontributor

Kontributor

Penulis

PesantrenSantriPesantren DarunnajahArizqi Ihsan Pratama

Bagikan artikel ini

Berita terkait

Lihat semua