Halaman Pusat Pelatihan SDM Kubika Erasia belum sepenuhnya ramai. Udara masih basah oleh sisa embun pagi tadi. Rumput di sudut taman tampak sederhana saja, di beberapa sisi tampak tak terawat. Ada bekas diinjak kaki, sering dilewati, tapi jarang disapa. Pohon ketapang berdiri diam di tepi jalan setapak seakan tanpa penjaga. Daun-daunnya bergoyang pelan. Di kejauhan terdengar suara burung, bercampur samar dengan deru kendaraan dari jalan raya.
Tak selang berapa lama, suara mikrofon meminta para peserta pelatihan berkumpul di halaman. Sebagian masih membawa gawai. Sebagian lain masih bercakap pelan, membahas tugas, agenda kelas, dan pekerjaan yang menunggu di kantor. Wajah mereka seperti wajah orang-orang modern pada umumnya. Hadir secara fisik, tetapi pikirannya berlari ke banyak tempat.
Fasilitator pelatihan pagi itu, Akmal Salim, berkata dengan lembut:
“Bapak-Ibu, pagi ini kita tidak mulai dengan slide. Tidak dengan teori. Tidak dengan definisi. Kita mulai dengan kaki. Dengan tanah. Dengan napas. Dengan alam yang selama ini kita lewati, tetapi jarang kita dengarkan.”
Beberapa peserta tersenyum. Ada yang tampak heran. Ada yang spontan melihat ke bawah, seolah baru sadar bahwa tanah yang mereka injak bukan sekadar permukaan keras, tetapi bagian dari kehidupan yang menopang mereka setiap hari.
Fasilitator lalu mengajak peserta melepas alas kaki.
Sebagian ragu. Ada yang khawatir kotor. Ada yang takut rumput basah. Ada yang geli membayangkan telapak kaki menyentuh tanah langsung. Namun justru di situlah pelajaran dimulai. Sering kali jarak manusia dengan alam bukan karena alam jauh, tetapi karena manusia terlalu lama membungkus dirinya dengan sepatu, dengan tembok, dengan pendingin ruangan, dengan jadwal, dengan target, dengan layar, dengan kesibukan, dan dengan ego.
Di pagi itu, pelatihan SDM pegawai pemerintah yang biasanya dimulai pembukaan di aula, memasuki ruang belajar yang paling tua dalam sejarah manusia, yakni tanah.
Aktivitas 54321: Berjalan Pelan, Menyapa Alam
Fasilitator meminta peserta melakukan mindful walking tanpa alas kaki. Dia meminta peserta tidak berjalan cepat. Tidak perlu saling mendahului. Diminta tidak bercakap dan berbicara dengan peserta lain. Cukup berjalan pelan, hadir penuh, dan membiarkan seluruh indera kembali bekerja melihat sekeliling.
Instruksinya sederhana:
1. Lihatlah 5 objek/benda di alam (sekitar jalan yang dilalui).
Mungkin daun yang berlubang kecil dimakan ulat. Mungkin batu yang berserak di pinggir jalan. Mungkin bunga liar yang tumbuh tanpa pernah diminta tampil. Mungkin langit yang berarak pelan dengan keindahannya. Mungkin tanaman di sudut ruangan. Mungkin lukisan di dinding. Bisa jadi retakan pada ubin. Mungkin seekor semut yang mengangkat sesuatu lebih besar dari tubuhnya.
2. Dengarkan 4 suara.
Mungkin kicau burung. Angin yang berhembus. Gesekan daun. Langkah kaki peserta lain. Napas sendiri. Bisa jadi itu suara TV di ruang sebelah. Dengungan pelan dari pendingin ruangan. Atau suara jauh kendaraan yang mengingatkan bahwa alam dan modernitas kini hidup berdesakan.
3. Raba dan pegang 3 objek.
Kulit pohon yang kasar. Permukaan tembok. Rumput yang basah. Tanah yang lembut. Daun yang rapuh. Batu yang dingin. Mungkin termasuk pakaian yang menyentuh kulit Anda. Tiba-tiba tangan belajar lagi bahwa dunia tidak hanya terdiri dari layar kaca yang licin.
4. Cium atau hirup aroma 2 objek.
Aroma tanah setelah embun. Aroma daun yang diremas pelan. Mungkin hembusan angin. Hangat matahari. Aroma bunga kecil yang selama ini tak punya nama dalam ingatan kita, tetapi tetap menjalankan tugasnya menghadirkan wangi tanpa meminta tepuk tangan.
5. Masukkan ke mulut dan rasakan 1 objek yang aman.
Seteguk air putih. Sisa kopi yang Anda minum. Sehelai daun herbal yang sudah dipastikan aman. Buah kecil yang tersedia. Atau sekadar merasakan udara pagi yang masuk melalui napas, lalu menyadari bahwa tubuh kita hidup karena alam masih memberi.
Secara psikologis, pola 5-4-3-2-1 dikenal sebagai latihan grounding, yaitu cara mengembalikan perhatian manusia pada saat kini melalui pancaindra. Latihan ini membantu mengalihkan pikiran dari kekhawatiran, kecemasan, atau ruminasi menuju kesadaran yang lebih hadir dan terhubung dengan lingkungan nyata di sekitarnya (Pelajari lebih lanjut: https://www.verywellmind.com/5-4-3-2-1-grounding-technique-8639390?).
Saat praktik KBC, aktivitas 54321 bukan hanya teknik menenangkan diri. Ia menjadi jalan spiritual untuk mengaktifkan radar cinta. Mata bukan hanya melihat benda. Telinga bukan hanya menangkap bunyi. Kulit bukan hanya meraba tekstur. Hidung bukan hanya mengenali aroma. Lidah bukan hanya mengecap rasa. Semua indera menjadi pintu untuk membaca ayat-ayat Allah yang terbentang di alam.
Sebab alam bukan benda mati. Alam adalah tanda (ayat). Alam adalah kitab terbuka (ayat kauniyah). Alam adalah ruang zikir yang sering kali lebih jujur daripada kata-kata manusia.

Cerita Kecil di Halaman
Di antara peserta pelatihan, ada seorang kepala madrasah. Namanya kita sebut saja Bu Salamah. Usianya mendekati lima puluh. Ia dikenal disiplin, rapi, dan sangat serius. Selama ini, baginya halaman madrasah adalah urusan kebersihan, bukan urusan pembelajaran. Pohon adalah urusan tukang kebun. Sampah adalah urusan petugas kebersihan. Taman adalah pelengkap akreditasi.
Tetapi saat berjalan tanpa alas kaki, sesuatu menyentak kesadarannya.
Bu Salamah berhenti di bawah pohon mangga. Matanya terpaku pada sehelai daun yang jatuh. Daun itu tidak hijau lagi. Warnanya kuning kecokelatan. Urat-uratnya terlihat jelas. Sebagian tepinya robek. Dia mengambil daun itu, merabanya pelan, lalu tanpa sadar air matanya meleleh.
Saat sesi refleksi, Bu Salamah berkata pelan sambil berkaca-kaca:
“Saya baru sadar, selama ini saya sering meminta anak-anak menjaga kebersihan halaman, tetapi saya jarang mengajak mereka mencintai halaman. Saya sering menegur anak yang membuang sampah, tetapi jarang mengajak mereka berdialog dengan pohon, tanah, air, dan udara. Saya mengajarkan alam sebagai materi IPA. Tapi saya belum menjadikan alam sebagai guru.”
Ruangan hening.
Kalimat itu sederhana, tetapi menampar banyak orang.
Sebab begitulah seringnya pendidikan kita memperlakukan alam. Alam hanya sebagai objek pelajaran, bukan subjek perjumpaan. Sebagai bahan ujian, bukan ruang penyadaran. Sebagai sumber daya, bukan amanah. Sebagai pemandangan, bukan saudara (sesama) ciptaan.
Di banyak lembaga pendidikan, anak-anak diajarkan definisi fotosintesis, tetapi tidak pernah diajak berterima kasih kepada daun. Mereka menghafal siklus air, tetapi membuang air wudu tanpa rasa bersalah. Mereka belajar ekosistem, tetapi membiarkan plastik sekali pakai menumpuk di kantin. Mereka tahu istilah pencemaran, tetapi tidak merasa bersalah saat got sekolah penuh sampah.
Inilah ironi pendidikan modern. Ilmu tentang alam bertambah, tetapi cinta kepada alam tidak selalu tumbuh. Anak mendapat nilai IPA 9, tetapi membiarkan kertas berserakan.
Refleksi Personal: Menulis Sebelum Berdiskusi
Setelah aktivitas 54321, fasilitator tidak langsung membuka diskusi. Peserta diminta diam sebentar. Mengambil buku diary yang telah disediakan. Diminta menulis dengan jujur. Bukan untuk dinilai. Bukan untuk dipresentasikan. Tetapi untuk mendengar suara batin sendiri.
1. Sensasi apa yang dirasakan saat kita mengaktifkan semua indera?
Ada peserta yang menulis: “Saya merasa lebih tenang.”
Ada yang menulis: “Saya baru sadar rumput itu dingin.”
Peserta yang duduk di pojok barisan pertama menulis: “Saya merasa kecil.”
Ada juga yang menulis: “Saya malu kepada tanah, karena selama ini saya injak tanpa pernah berterima kasih.”
Peserta dari Kementerian Kelautan menulis dengan jujur: “Ternyata alam tidak diam. Saya saja yang terlalu bising.”
Mengaktifkan indera berarti mengembalikan manusia kepada tubuhnya. Banyak orang hidup terlalu lama di kepala: memikirkan target, laporan, jabatan, kecemasan, masa lalu, atau masa depan. Tubuhnya ada di sini, tetapi pikirannya berkelana. Aktivitas 54321 memanggil manusia kembali ke "diri"nya: ke napasnya, ke langkahnya, ke bumi yang ia pijak.
Berbagai studi tentang mindful nature walking menyebutkan, berjalan penuh kesadaran di ruang alam membantu peserta lebih fokus mengamati kondisi batin dan lingkungan luar, serta mengalami rasa lebih tenang dan rileks. Dalam bahasa KBC, sensasi itu adalah awal dari hudhur: hadir. Bukan sekadar mengetahui alam, tetapi mengalami (bersama) alam. Bukan sekadar berpikir tentang ciptaan, tetapi merasakan diri sebagai bagian dari ciptaan Allah.
2. Sejauh mana kita betul-betul hadir dan mengaktifkan radar untuk menangkap kehadiran Allah di sekitar kita?
Pertanyaan ini lebih dalam. Ia tidak bertanya: “Apakah kita percaya Allah menciptakan alam?” Hampir semua orang beriman akan menjawab: iya. Tetapi pertanyaannya, apakah keimanan itu hadir saat kita melihat air, tanah, pohon, batu, sampah, sungai, langit, udara?
Kita sering mencari tanda kehadiran Allah hanya dalam peristiwa besar. Misalnya kelahiran, kematian, musibah, keberhasilan, atau doa yang terkabul. Padahal Allah juga menyapa melalui hal-hal kecil, seperti setetes embun, daun yang jatuh, akar yang kuat, burung yang terbang, tanah yang menerima segala rupa, atau air yang mengalir dari hulu ke hilir.
Al-Qur’an menyebut manusia sebagai khalifah di bumi; makhluk yang diberi amanah, bukan izin untuk merusak. QS. Al-Baqarah: 30 menyebut:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
Istilah khalifah menunjukkan manusia hadir sebagai generasi yang memikul tanggung jawab di bumi, bukan sekadar penghuni yang bebas mengeksploitasi. Karena itu, radar spiritual manusia seharusnya menangkap dua hal sekaligus: keindahan alam sebagai tanda kasih Allah dan kerusakan alam sebagai tanda kelalaian manusia.
Jika radar itu mati, manusia bisa merusak lingkungan sambil merasa maju. Bisa menebang hutan sambil menyebut demi pembangunan. Bisa mencemari tanah sambil menyebut pertumbuhan ekonomi. Bisa membuang makanan sambil merasa rezekinya banyak. Bisa menghabiskan air sambil merasa tagihannya masih sanggup bayar. Padahal alam tidak hanya rusak karena teknologi. Alam rusak karena hati manusia kehilangan arah.
3. Perbedaan apa yang kita rasakan jika kita hadir penuh dan mengaktifkan radar indera kita?
Saat kita hadir penuh, pohon tidak lagi sekadar pohon. Ia menjadi guru tentang keteguhan.
Air tidak lagi sekadar air. Ia menjadi guru tentang kerendahan hati.
Tanah tidak lagi sekadar tanah. Ia menjadi guru tentang penerimaan.
Burung tidak lagi sekadar burung. Ia menjadi guru tentang tawakal.
Daun kering tidak lagi sekadar sampah. Ia menjadi guru tentang kefanaan.
Manusia yang hadir penuh akan lebih sulit bersikap kasar kepada alam. Ia akan berpikir dua kali sebelum membuang sampah ke sembarang tempat. Ia akan merasa tidak nyaman melihat air terbuang sia-sia. Ia akan malu jika ruang belajar bersih hanya saat ada tamu, tapi berantakan kembali saat tak ada orang. Ia akan mulai bertanya, “Apakah lembaga pendidikan kita sudah mengajarkan cinta alam, atau baru mengajarkan pengetahuan tentang alam?”
Di sinilah KBC bergerak. Dari tahu menjadi sadar, dari sadar menjadi peduli, dari peduli menjadi tindakan.
Konseptualisasi: Cinta Alam sebagai Jalan Iman, Ilmu, dan Akhlak
Cinta Alam bukan romantisme hijau. Ia bukan sekadar menanam pohon untuk dokumentasi. Bukan sekadar lomba kebersihan. Bukan sekadar slogan “go green” di spanduk. Cinta Alam adalah kesadaran bahwa bumi adalah amanah Allah, dan manusia harus hadir sebagai penjaga, bukan perusak.
Al-Qur’an memperingatkan dalam beberapa ayat yang mengguncang kesadaran,
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A‘rāf: 56).
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm: 41).
Dua ayat di atas memberi kerangka etis yang kuat, bahwa kerusakan ekologis bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah moral dan spiritual.
Secara teoritik, aktivitas 54321 dapat dijelaskan melalui tiga lapis.
Pertama, lapis psikologis. Teknik 54321 membantu peserta kembali ke saat kini melalui pancaindra. Ia mengurangi dominasi pikiran yang melompat-lompat dan mengembalikan perhatian kepada realitas yang sedang dialami.
Kedua, lapis ekologis-pedagogis. Teori Attention Restoration Theory yang dikembangkan Rachel dan Stephen Kaplan pada akhir 1980-an (khususnya disempurnakan pada 1995) menjelaskan bahwa paparan terhadap alam dapat membantu memulihkan kelelahan perhatian. Lingkungan alam memberi ruang bagi perhatian yang lebih lembut, tidak memaksa, sehingga kapasitas fokus manusia dapat pulih.
Ketiga, lapis spiritual. Dalam perspektif Islam, alam adalah ayat kauniyah. Ia bukan sekadar objek empiris, tetapi tanda-tanda kebesaran Allah. Maka melihat alam dengan penuh perhatian bukan hanya latihan mindfulness, tetapi juga latihan tauhid ekologis. Yaitu menyadari bahwa semua yang ada berada dalam jaringan rahmat, amanah, dan tanggung jawab.
Di titik ini, Cinta Alam mempertemukan tiga dimensi pendidikan:
Ilmu, agar peserta memahami sistem kehidupan.
Hikmah, agar peserta menangkap makna di balik kehidupan.
Adab, agar peserta memperlakukan kehidupan dengan hormat.
Tanpa ilmu, cinta alam bisa menjadi sentimental.
Tanpa hikmah, ilmu tentang alam bisa menjadi dingin.
Tanpa adab, pengetahuan ekologis bisa tetap melahirkan perilaku merusak.
Aplikasi: Menghidupkan Cinta Alam
Setelah refleksi dan konseptualisasi, fasilitator mengajak peserta masuk ke tahap aplikasi. Pertanyaannya bukan lagi: “Apa yang saya rasakan?” Tetapi: “Apa yang akan saya ubah?”
Dalam konteks lembaga pelatihan atau lembaga pendidikan, Cinta Alam dapat diterjemahkan ke dalam beberapa praktik konkret.
Pertama, menjadikan halaman sebagai ruang belajar spiritual-ekologis. Setiap pelatihan atau pembelajaran tidak harus selalu dimulai di ruang kelas. Sesekali peserta diajak keluar, berjalan pelan, membaca tanda-tanda alam, lalu menulis refleksi. Halaman madrasah/sekolah, perguruan tinggi, atau lembaga pelatihan bukan sekadar area parkir atau taman formal. Ia dapat menjadi laboratorium kesadaran.
Kedua, mengubah kebiasaan kecil menjadi budaya lembaga. Penggunaan air wudu yang hemat. Pengurangan botol plastik sekali pakai. Pemilahan sampah. Kantin ramah lingkungan. Menanam dan merawat pohon dengan nama peserta atau kelas. Aktivitas itu bukan sekadar proyek, tetapi pembiasaan yang diberi makna.
Ketiga, mengintegrasikan Cinta Alam ke dalam pembelajaran lintas mata pelajaran. Guru fikih dapat membahas thaharah dan hemat air. Guru akidah akhlak dapat membahas amanah khalifah. Guru IPA dapat mengaitkan ekosistem dengan tanggung jawab moral. Guru bahasa dapat meminta siswa menulis puisi tentang pohon di halaman sekolah. Guru PAI dapat mengajak siswa membaca ayat-ayat kauniyah.
Keempat, membangun eco-diary atau jurnal cinta alam. Siswa, peserta pelatihan, guru, atau ASN menulis pengalaman harian. Contoh: satu hal dari alam yang mereka lihat, satu kerusakan kecil yang mereka sadari, satu tindakan perbaikan yang mereka lakukan. Dengan cara ini, cinta alam tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi latihan batin.
Kelima, membuat audit ekologis sederhana. Berapa banyak sampah plastik dihasilkan dalam satu hari pelatihan? Berapa botol air mineral digunakan? Berapa listrik menyala tanpa keperluan? Berapa banyak makanan tersisa? Data sederhana ini dapat menjadi bahan muhasabah lembaga.
Sebab lembaga pendidikan yang mengajarkan Cinta Alam harus berani bertanya kepada dirinya sendiri: jangan-jangan yang paling membutuhkan pendidikan ekologis bukan hanya peserta didik, tetapi juga sistem lembaga itu sendiri.
Penutup Reflektif: Saat Alam Menjadi Guru
Pada akhir sesi, fasilitator meminta peserta kembali mengenakan alas kaki. Tetapi beberapa peserta tampak menunda. Mereka masih ingin merasakan rumput. Masih ingin berdiri sebentar di atas tanah. Seolah ada sesuatu yang baru saja melintas ke dalam diri mereka.
Bu Salamah, kepala madrasah tadi, menutup buku hariannya. Di halaman terakhir dia menulis:
“Mulai besok, saya ingin anak-anak tidak hanya menyapu halaman. Saya ingin mereka menyapa halaman. Saya ingin mereka tidak hanya menanam pohon. Saya ingin mereka belajar dari pohon. Saya ingin madrasah kami tidak hanya bersih saat dinilai, tetapi bersih karena kami mencintai ciptaan Allah.”
Disitulah makna Cinta Alam mengejawantah.
Ia tidak berhenti pada slogan lingkungan. Ia tidak cukup dengan poster hijau. Ia tidak puas dengan seremoni menanam pohon. Ia ingin mengubah cara manusia melihat bumi.
Dari objek menjadi amanah.
Dari sumber daya menjadi saudara ciptaan.
Dari tempat tinggal menjadi ruang ibadah.
Dari pemandangan menjadi ayat.
Dari eksploitasi menjadi kasih sayang.
Mungkin bumi tidak membutuhkan pidato panjang kita. Bumi membutuhkan manusia yang kembali peka. Manusia yang ketika melihat daun, ingat Allah. Ketika menyentuh tanah, ingat asal-usulnya. Ketika mendengar burung, ingat tasbih semesta. Ketika meminum air, ingat rahmat. Ketika melihat sampah, merasa terpanggil untuk memperbaiki.
Sebab Cinta Alam bukan hanya mencintai yang indah dari alam. Cinta Alam adalah kesediaan menjaga, merawat, membela, dan menyembuhkan bumi—bahkan ketika bumi terluka oleh tangan manusia sendiri.
Dan mungkin, pelajaran terbesar dari mindful walking pagi itu adalah ini:
Kita tidak sedang berjalan di atas tanah mati.
Kita sedang berjalan di atas amanah.
Kita tidak sedang melihat alam yang jauh dari Tuhan.
Kita sedang membaca tanda-tanda kasih-Nya.
Kita tidak sedang belajar tentang bumi semata.
Kita sedang belajar menjadi manusia.[]
Mastuki (Direktur Bina Pendidikan Muadalah dan Diniyah Formal pada Ditjen Pesantren)

